TIMES BALI, JAKARTA – World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, biasanya identik dengan pertemuan elite global, diskursus geopolitik, dan kebijakan ekonomi dunia. Namun tahun ini, sorotan publik turut tertuju pada satu sosok yang datang dari luar lingkar politik: Katy Perry.
Penyanyi pop global itu hadir mendampingi sang kekasih, mantan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. Bukan hanya kehadirannya yang menarik perhatian, melainkan perubahan citra yang ia tampilkan—lebih tenang, tertata, dan jauh dari persona panggungnya yang selama ini dikenal eksentrik dan teatrikal.
Bagi publik yang terbiasa melihat Katy Perry dalam kostum penuh lampu, busana eksperimental, hingga gaya panggung yang provokatif, penampilannya di Davos terasa kontras. Kali ini, ia memilih bahasa visual yang lebih kalem dan selaras dengan atmosfer forum ekonomi-politik kelas dunia.
Busana sebagai Simbol Peran Baru
Pada hari pertama WEF 2026, Katy tampil dalam setelan Jacquemus berupa rok rajut warna beige yang dipadukan dengan cardigan senada. Aksesori anting berukuran besar serta kacamata hitam dari rumah mode yang sama melengkapi tampilannya. Keseluruhan gaya tersebut tampak minimalis, elegan, dan mencerminkan kesadaran konteks—jauh dari kesan “showgirl” yang melekat pada citra lamanya.
Hari berikutnya, interpretasi busana bisnis Katy kembali mencuri perhatian. Ia mengenakan jaket navy berpotongan tegas dari Mugler, dipadukan dengan celana senada. Sentuhan edgy masih terasa, namun dikemas dalam siluet yang dewasa dan profesional. Banyak pengamat mode menyebut auranya menyerupai figur first lady—tenang, berkelas, dan komunikatif secara simbolik.
Perubahan gaya ini dinilai bukan sekadar soal selera berpakaian, melainkan bentuk adaptasi peran. Sebagai pasangan figur politik global, Katy Perry tampak lebih berhati-hati menempatkan ekspresi diri melalui busana, terutama saat hadir di ruang formal yang sarat makna diplomatik.
Asmara, Publisitas, dan Panggung Global
Hubungan Katy Perry dan Justin Trudeau mulai terjalin tak lama setelah Katy mengakhiri pertunangannya dengan Orlando Bloom pada 2025. Keduanya memperkenalkan hubungan tersebut ke publik melalui unggahan Instagram pada musim gugur, sebelum akhirnya tampil bersama secara terbuka dalam perayaan ulang tahun Katy yang ke-41 pada Oktober lalu.
Seorang sumber menyebutkan, “Mereka sangat menyukai satu sama lain dan menikmati perhatian yang datang bersama hubungan ini.” Namun, tampil bersama di WEF Davos membawa hubungan ini ke level berbeda—bukan lagi sekadar selebritas dan tokoh publik, melainkan pasangan yang bergerak di panggung global dengan sorotan politik dan simbolik yang kuat.
Kehadiran Katy Perry di Davos menunjukkan bagaimana figur budaya pop kini semakin cair melintasi batas hiburan, politik, dan diplomasi simbolik. Di ruang seperti WEF, busana, gestur, dan kehadiran bukan sekadar estetika, melainkan pesan tentang peran, posisi, dan transformasi identitas di mata publik dunia. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Gaya Baru Katy Perry Saat Dampingi Justin Trudeau di WEF Davos
| Pewarta | : Khodijah Siti |
| Editor | : Imadudin Muhammad |