Ritual Tolak Bala Imlek 2026, Perpaduan Indah Tradisi Tionghoa dan Budaya Bali
Menjelang Imlek 2026, ratusan warga etnis Tionghoa di Kuta menggelar ritual tolak bala. Simbol akulturasi kuat terlihat dari penggunaan pakaian adat Bali dan sesajen canang.
kuta – Menjelang Tahun Baru Imlek 2026 (Imlek 2577 Kongzili), kawasan Kuta, Bali, diramaikan oleh ritual tolak bala yang unik. Ratusan warga etnis Tionghoa setempat menggelar parade budaya yang memadukan tradisi leluhur Tiongkok dengan kearifan lokal Bali, menciptakan suasana harmoni yang kental di sepanjang jalan utama Kuta.
Penanggung Jawab Pengurus Vihara Dharmayana Kuta, Adi Dharmaja Kusuma, menjelaskan bahwa ritual ini bertujuan untuk menetralisir energi negatif serta memberikan penghormatan kepada semua makhluk.
“Ini untuk memberikan penghormatan kepada makhluk-makhluk yang tidak terlahir di alam bahagia, kami yakini liong dan barongsai bisa menetralisir hal-hal negatif,” ujar Adi Dharmaja di Kabupaten Badung, Senin (16/2/2026).
Wujud Nyata Akulturasi Budaya
Pemandangan mencolok terlihat saat sekitar 400 warga berparade dengan pakaian adat Bali. Selain membawa perlengkapan ibadah khas Tionghoa, peserta juga membawa atribut yang identik dengan upacara Hindu Bali, seperti tedung (payung suci), lelontek (umbul-umbul), hingga penjor.
Bahkan, setiap umat yang sembahyang turut menghaturkan canang sari (sesajen bunga) dan gebogan (rangkaian buah dan bunga).
“Sarana prasarana umat yang melaksanakan persembahyangan pasti setidaknya membawa canang sari, begitu juga gebogan nanti kita akan lihat buah dan bunga yang dirangkai, ada penjor, ada atribut-atribut lainnya,” tambahnya.
Sejarah Panjang Ribuan Tahun
Akulturasi di Vihara Dharmayana Kuta bukanlah hal baru; jejaknya telah ada sejak tahun 1700. Di wihara ini, Yang Mulia Toa Kongco Tan Hu Cin Jin dipuja berdampingan dengan dua mahapatih Hindu, yakni Ida Bagus Tiying Kayu dan I Gusti Ngurah Tubu.
“Jadinya akulturasi ini sudah sangat lama karena kita menghormati yang namanya mahapatih bhagawanta dari Bali,” jelas Adi Dharmaja.
Atraksi Magis yang Memikat Wisatawan
Parade yang sudah memasuki tahun ke-18 ini menempuh rute dari Vihara Dharmayana menuju persimpangan Jalan Blambangan-Kalianget, berlanjut ke Jalan Raya Kuta, dan berakhir kembali di Vihara. Sepanjang jalan, lima barongsai dan dua liong melakukan atraksi magis di titik-titik persimpangan untuk "membersihkan" wilayah tersebut dari hal negatif.
Keaslian ritual ini menarik perhatian wisatawan mancanegara. Nicola, seorang turis asal Italia yang pernah tinggal lama di Tiongkok dan Hong Kong, mengaku terpukau dengan kesakralan acara ini dibandingkan pertunjukan barongsai di pusat perbelanjaan.
“Saya pernah tinggal di Tiongkok dan Hongkong selama bertahun-tahun dan ini satu-satunya tempat di mana saya melihat sesuatu yang sangat mirip dengan Tiongkok. Di Bali biasanya saya melihat barongsai di mal, ini pertama lihat di depan kuil dan benar-benar berbeda,” pungkas Nicola. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




