https://bali.times.co.id/
Berita

Antisipasi Dampak Perubahan Iklim di Bali, Begini Solusi yang Ditawarkan di Seminar Internasional

Jumat, 05 Juli 2024 - 23:13
Antisipasi Dampak Perubahan Iklim di Bali, Begini Solusi yang Ditawarkan di Seminar Internasional Kekhawatiran masyarakat Bali yang tinggi terhadap dampak perubahan iklim disikapi oleh beberapa ahli di Seminar Internasional. (Foto: Humas Unwar for TIMES Indonesia)

TIMES BALI, BALIPerubahan iklim menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Bali karena akan berdampak terhadap ketahanan pangan dan kemarau yang berimbas pada kelangkaan air.

Dr. Rodney Westerlaken, MA, MEd, MSi, pendiri Yayasan Westerlaken Alliance Indonesia, mengungkap hal tersebut saat menjadi narasumber dalam Seminar Internasional dengan tema “Harvesting Resilience: Navigating Food Security Challenges in a Changing Climate” yang diselenggarakan serangkaian HUT Badan Kekeluargaan (BK) Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa di Denpasar pada Jumat (5/7/2024).

Mengutip data Inisiatif Matangi Bali tentang perubahan ikim di Bali sejak Oktober 2023-sampai Januari 2024, Westerlaken mendapatkan fakta bahwa 97,5% responden mengungkapkan kecemasan yang tinggi terhadap perubahan iklim, 53% mengkhawatirkan dampak kesehatan dan 47% mengkhawatirkan ketersediaan makanan dan air.

“Dampak lokal yang terasa, menurunnya aliran sungai di Tigawasa, Buleleng, meningkatnya banjir sejak tahun 2010 di Jembrana, Ubud, Renon. Naiknya permukaan air laut di Kabupaten Klungkung," ungkapnya.

Menurutnya, kekeringan mungkin merupakan kekhawatiran terbesar di antara semua bencana yang berhubungan dengan cuaca untuk produksi padi.

"Konversi lahan pertanian ke penggunaan non-pertanian diidentifikasi sebagai ancaman besar terhadap produksi padi. Data statistik menunjukkan menyusutnya penggunaan lahan untuk pertanian, " jabarnya.

Direktur Pusat Penelitian Fungsi Pangan dan Kesehatan, Universitas Ehima, Jepang, Prof. Takuya Sugahara mengakui perubahan iklim juga telah mempengaruhi produksi jeruk di Jepang.

Kawasan yang cocok untuk budidaya jeruk rata-rata memiliki suhu antara 15-18 derajat Celcius.

"Namun, ke depan wilayah bersuhu tinggi yang tidak cocok untuk bercocok tanam juga diperkirakan akan semakin meluas," tuturnya.

Takuya menjelaskan tantangannya saat ini produksi limbah kulit jeruk cukup besar yang dihasilkan dari pabrik jus. Pemanfaatannya mesti dilakukan sebagai upaya mengurangi emisi dari limbah yang dihasilkan.

“Kulit jeruk mengandung berbagai bahan yang bermanfaat bagi kesehatan, dan pemanfaatan kulit jeruk secara efektif tidak hanya mengurangi emisi limbah, namun juga mengarah pada pengembangan pangan fungsional," paparnya.

Sementara itu, Prof B Ravindran, PhD, dari Departemen Energi & Teknik Lingkungan Universitas Kyanggi, Korea Selatan, menyampaikan upaya mitigasi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim wajib dilakukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman guna mencapai ketahanan pangan. Pengomposan menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi limbah dan disisi lain membantu menjaga kesuburan tanah.

“Proses pengomposan dapat diterima secara sosial dan merupakan salah satu teknologi yang paling sesuai untuk pengolahan dan pembuangan limbah. Kompos memperbaiki struktur tanah, menghemat air, mengisi kembali nutrisi yang hilang, dan mendukung mikroorganisme yang bermanfaat,” ungkap Ravindran.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan pada Universitas Warmadewa, Dr I Nyoman Sujana, MHum, mengatakan perubahan iklim ini memiliki pengaruh besar dalam sektor pertanian.

"Situasi ini dikatakan berpengaruh terhadap ketidaktahanan pangan serta berdampak kepada kesejahteraan petani maupun masyarakat konsumen," ujarnya.

Sujana menambahkan bahwa peran pemerintah juga sangat penting dalam pengambilan keputusan dan penerapan kebijakan yang membantu pertanian berkelanjutan ini dapat terwujud.

Ia juga menekankan peran pemerintah dalam pengembangan pertanian, distribusi, serta kesejahteraan masyarakat sangat penting dalam penerapan kebijakan yang berhubungan dengan hal ketahanan pangan ini. (*)

Pewarta : Susi Artiyanto
Editor : Hendarmono Al Sidarto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Bali just now

Welcome to TIMES Bali

TIMES Bali is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.