Sate Gebug 1920 Malang  Kuliner Legendaris yang Tetap Bertahan Lebih dari 100 Tahun
Sate Gebug 1920 Malang. (FOTO: Istimewa)

Sate Gebug 1920 Malang Kuliner Legendaris yang Tetap Bertahan Lebih dari 100 Tahun

Di tengah maraknya kuliner modern dan waralaba makanan cepat saji, Malang tetap menyimpan kekayaan cita rasa tempo dulu yang tak lekang oleh waktu.

TIMES Bali,Selasa 29 Juli 2025, 08:43 WIB
562.3K
A
Achmad Fikyansyah

MALANGDi tengah maraknya kuliner modern dan waralaba makanan cepat saji, Malang tetap menyimpan kekayaan cita rasa tempo dulu yang tak lekang oleh waktu. Salah satunya adalah Warung Sate Gebug 1920, kuliner legendaris yang telah bertahan selama lebih dari satu abad dan masih menjadi favorit lintas generasi.

Berlokasi di Jalan Jenderal Basuki Rahmat 113A, kawasan heritage Kayutangan, warung ini telah berdiri sejak tahun 1920. Nama “gebug” merujuk pada teknik unik dalam mengolah daging, yakni dengan cara dipukul-pukul agar teksturnya menjadi lebih empuk. Proses inilah yang menjadikan sate gebug memiliki karakteristik khas: tusukan besar, padat daging, dan lembut saat dikunyah.

article

Resep sate ini diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga pendiri, mulai dari Mbah Yahmun hingga kini dikelola oleh generasi ketiga. Meski zaman telah berganti, cara memasak dan racikan bumbu rempah khas tetap dipertahankan. Bahkan, hingga saat ini Warung Sate Gebug 1920 tidak membuka cabang di mana pun, sebagai bentuk komitmen menjaga orisinalitas rasa.

Menu andalan yang paling banyak diburu pengunjung adalah sate gebug sapi, baik yang berlemak maupun tanpa lemak. Harga satu tusuk sate berkisar antara Rp25.000 hingga Rp35.000, tergantung jenis potongan daging yang digunakan.

Selain sate, tersedia juga menu pelengkap seperti rawon, soto, sop, tempe goreng, mendol, kerupuk, emping, hingga minuman tradisional. Nasi putih dibanderol hanya Rp6.000, dan minuman mulai dari Rp5.000.

Sate dimasak dengan cara dibakar di atas arang secara manual, disajikan bersama sambal kecap manis yang menjadi pelengkap sempurna. Proses pembakaran yang masih tradisional ini turut menciptakan aroma smokey yang menggoda selera.

Warung ini tidak hanya menyuguhkan makanan, tapi juga menghadirkan suasana nostalgia. Bangunan tua bergaya kolonial Belanda, lengkap dengan kursi kayu dan stoples kaca jadul, menghidupkan kembali suasana tempo dulu. Tak sedikit pelanggan lama yang datang hanya untuk mengenang masa kecil mereka di warung ini.

Warung Sate Gebug 1920 buka setiap hari pukul 08.00 hingga 16.30 WIB, kecuali hari Jumat. Karena warung ini terkenal dan tidak membuka cabang, disarankan untuk datang lebih awal, terutama saat akhir pekan, guna menghindari kehabisan.

Dengan cita rasa autentik, teknik masak tradisional, dan nuansa klasik yang khas, Warung Sate Gebug 1920 bisa dikategorikan sebagai warisan kuliner legenda di Malang yang patut dilestarikan. Jika berkunjung ke Malang, tempat ini wajib masuk daftar destinasi kuliner Anda. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Achmad Fikyansyah
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bali, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.